FOMO Saham: Kenapa Selalu Beli di Puncak
Banyak trader pernah mengalami hal yang sama.
Melihat sebuah saham naik cepat.
Melihat banyak orang membicarakannya.
Merasa harus ikut masuk.
Beberapa hari kemudian, harga justru turun.
Fenomena ini dikenal sebagai FOMO (Fear of Missing Out).
Apa Itu FOMO dalam Trading?
FOMO adalah rasa takut ketinggalan peluang.
Dalam trading, FOMO muncul ketika:
- Harga naik cepat
- Volume meningkat
- Banyak orang mulai membicarakan saham tersebut
Otak kita menerjemahkan situasi ini sebagai:
“Jika tidak masuk sekarang, aku akan ketinggalan.”
Kenapa Trader Sering Masuk Terlambat?
Pergerakan harga yang cepat menciptakan tekanan psikologis.
Semakin tinggi harga naik, semakin besar rasa urgensi.
Trader mulai berpikir:
- “Saham ini kuat.”
- “Semua orang masuk.”
- “Aku harus ikut.”
Pada titik ini, keputusan tidak lagi berdasarkan rencana, tetapi emosi.
FOMO Membuat Trading Menjadi Reaktif
FOMO mendorong trader untuk:
- Mengabaikan rencana
- Mengabaikan risiko
- Masuk tanpa setup jelas
Trading berubah dari proses analisis menjadi reaksi.
Kenapa Harga Sering Berbalik Setelah Kita Entry?
Salah satu alasan umum:
Ketika harga sudah naik jauh, banyak trader lain mulai mengambil profit.
Trader yang masuk karena FOMO sering menjadi pembeli terakhir.
Akibatnya, harga berhenti naik atau mulai turun.
FOMO dan Overtrading
FOMO sering menjadi pintu masuk menuju overtrading.
Baca juga: Overtrading saham: penyebab & cara berhenti
Setelah loss karena FOMO, trader sering mencoba menutup kerugian dengan trading lebih sering.
Siklus ini bisa berulang.
Perubahan Cara Pandang
Salah satu perubahan mindset penting:
Dari:
“Saham ini naik, aku harus masuk.”
Menjadi:
“Apakah ini peluang yang layak?”
Tidak semua saham yang naik adalah peluang.
Belajar Menunggu Lebih Penting
Kemampuan menunggu dapat membantu mengurangi keputusan impulsif.
Baca juga: Kenapa menunggu adalah skill trading tersulit
Penutup
FOMO adalah pengalaman yang sangat umum dalam trading.
Menyadari keberadaannya adalah langkah awal untuk mengelola keputusan dengan lebih rasional.
Konten ini bersifat edukatif dan reflektif, bukan nasihat keuangan atau rekomendasi investasi. Segala keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab masing-masing individu.